LONDON — Lanskap energi dunia mencatatkan tonggak sejarah (milestone) baru yang masif. Berdasarkan analisis data terbaru yang dirilis oleh lembaga think tank energi global, Ember, kombinasi pembangkit listrik tenaga surya (solar) dan angin (wind) secara resmi berhasil menghasilkan listrik lebih tinggi daripada pembangkit listrik berbahan bakar gas di seluruh dunia dalam kurun waktu satu bulan penuh.
Pencapaian Angka yang Signifikan
Dalam laporan tersebut, tenaga surya dan angin secara kolektif menyumbang 22% dari total pangsa listrik global, mengungguli pembangkit berbasis gas yang berada di kisaran 20%.
Secara absolut, duo energi terbarukan ini menghasilkan rekor sebesar 531 Terawatt-hour (TWh) listrik dalam satu bulan, atau unggul sekitar 54 TWh lebih banyak dibandingkan total produksi pembangkit gas yang berada di angka 477 TWh.
Lonjakan ini mencatatkan perubahan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun sebelumnya (seperti pada April 2021), di mana saat itu produksi listrik dari gas masih hampir dua kali lipat lebih besar dibanding gabungan tenaga surya dan angin.
Pendorong Utama: Adopsi Masif di Berbagai Belahan Dunia
Pencapaian luar biasa ini didorong oleh pertumbuhan adopsi infrastruktur tenaga surya dan angin yang melaju sangat cepat, bahkan di tengah ketidakpastian pasar bahan bakar fosil global. Peningkatan output energi bersih ini melonjak sekitar 13% secara year-on-year (tahunan) dengan kontribusi terbesar datang dari pasar-pasar utama dunia, di antaranya:
Tiongkok: Mencatat pertumbuhan output surya dan angin yang masif (+14%).
Uni Eropa & Inggris: Masing-masing mencatatkan kenaikan signifikan (+13% hingga +35%).
Amerika Serikat: Terus memperluas kapasitas jaringan hijaunya (+8%).
Kawasaki Amerika Latin & Pasifik: Seperti Brasil (+4%), Chili (+24%), dan Australia (+17%) yang secara konsisten mengintegrasikan energi surya dalam skala utilitas besar.
Argumen Ekonomi: Energi Surya Lebih Murah Dibanding Impor Gas
Analis Energi Global Ember, Kostantsa Rangelova, mengungkapkan bahwa krisis energi global dan fluktuasi harga gas alam cair (LNG) telah memperkuat alasan ekonomi bagi banyak negara untuk meninggalkan bahan bakar fosil impor.
"Negara-negara di seluruh dunia beralih ke tenaga surya dan angin karena keduanya merupakan sumber listrik yang murah, berasal dari dalam negeri (domestik), dan aman," ujar Rangelova. "Bagi banyak negara pengimpor, listrik yang dihasilkan oleh tenaga gas/LNG semakin tidak mampu bersaing secara ekonomis dengan tenaga surya dan angin yang biayanya terus menurun."
Dampak Jangka Panjang Terhadap Transisi Energi
Meskipun pencapaian ini baru terjadi dalam skala bulanan—mengingat kondisi musim semi di belahan bumi utara secara historis memang kerap memaksimalkan potensi angin dan surya—para ahli menilai tren ini merupakan sinyal kuat dari fase transisi energi global.
Lonjakan tenaga surya terbukti menjadi penyelamat utama dalam memenuhi lonjakan permintaan listrik dunia (termasuk untuk kebutuhan pusat data/data center dan kendaraan listrik) tanpa harus memicu lonjakan emisi karbon yang lebih parah. Rekor ini semakin menegaskan bahwa dominasi energi fosil konvensional seperti gas mulai terdesak oleh laju masif revolusi energi hijau, dengan tenaga surya sebagai motor penggerak utamanya.
Sumber : https://ember-energy.org/latest-updates/for-the-first-time-wind-and-solar-generated-more-electricity-than-gas-worldwide-in-april-2026/